cantabile4


***

 

14 februari , Kyoto

 

Pagi ini Anzu sedang menunggu tak sabar di koridor belokan yang berdekatan dengan kelas Akira sedang Yatsu telah berhasil meletakan coklat miliknya di loker milik Ryuu. Padahal Anzu juga ingin melakukan hal yang serupa tetapi sepertinya ia sedang tidak beruntung.

Tepatnya tadi pagi, saat menemani Yatsu meletakan coklat kotak di loker milik Ryuu mereka menemukan 8 kotak coklat lainnya. Anzu segera menghibur Yatsu sebab itu berarti Ryuu memang cowo baik yang banyak di sukai orang padahal ini masih dini hari. Namun, mereka lebih di kejutkan dengan keadaan loker Akira yang terbuka sebab terlalu banyak kotak coklat beragam ukuran di dalamnya. Di banding itu semua, coklat milik Anzu tak ada artinya. Hingga menyebabkannya harus berdiri canggung di koridor saat ini, perlu banyak nyali bagi Anzu untuk memberikannya langsung namun itu harus dari pada semua usahanya tadi malam sia-sia begitu saja.

Akira adalah salah satu pemain piano terbaik di sekolah , selalu saja ikut berpartisipasi dalam festifal sekolah, ia yang berada di kalangan orang yang berpamor, ketenaran yang dimilikinya sejak dulu selalu membuat Akira di kelilingi orang-orang hebat juga gadis cantik.

Tetapi bukan itu yang di sukai Anzu dari Akira, bukan semua ketenaran dan kelebihan lainnya, yang ia sukai dari Akira adalah kehangatannya pada semua orang, Akira begitu berbeda dengan kalangan tenar lainya. Bahkan,Akira sendiri tampak tidak mengungkit hal itu bagi Anzu,Akira yang ia sukai adalah sosok yang hangat dan menyenangkan. Semua perasaan itu muncul begitu saja, mengalir menghangatkan hati,seperti capriccioso cantabile,nyanyian yang riang dan bebas.

Dari ujung koridor, terdengar riuh suara teriakan gadis-gadis yang  terdengar histeris. Anzu tahu itu, Anggota para kalangan tenar itu pasti telah tiba di sekolah beberapa di antara mereka adalah anggota band yang berwajah tampan dan kaya. Tetapi Anzu hanya menunggu Akira ,gerombolan gadis menciptakan jarak antara mereka hingga membuat Anzu harus puas dengan hanya bisa melihat wajah Akira saja. Syukurlah saat mendekati ambang pintu kelas Akira telah ditinggalkan oleh gadis-gadis menyebalkan itu, kini ia hanya berjalan bersama Yuki teman baik Akira yang terkenal sebagai pemain baseball handal. Anzu tak akan melepaskan kesempatan ini.

“ Senpai!” panggil Anzu setelah setengah berlari

Berhasil! Mereka berdua menoleh kearahnya.

            “ah, kamu Rikuto ya?” tebak Yuki, kaget juga sebab Yuki mengetahui nama belakangnya

            “i..iya”jawab Anzu gugup

            “aku sering membaca puisi yang kamu tempel di mading sekolah lho” jelas Yuki

Sejenak Anzu merasa senang, namun ia menangkap tatapan dingin dari Akira.Tatapan yang tak pernah di lihatnya.

            “ Yuki, aku duluan” ucap Akira setelah menepuk pundak Yuki dan beralih masuk ke dalam kelas, meninggalkan Yuki dan Anzu yang tercengang di depan kelas.

            “baik” jawab Yuki tersenyum lalu kembali menatap Anzu

            “..nah Rikuto, ada perlu apa?”

Anzu tersikap begitu menyadari apa yang terjadi, bukan Yuki yang ia cari tetapi ia iangin memberikan coklat buatnya pada Akira! Spontan Anzu menyembunyikan coklatnya di balik badan.

            “ah begini..”

Yuki masih tampak menunggu tak sabar dengan kalimat Anzu

            “kemarin..” Anzu mencari topik pembicaraan sesegara otaknya berpikir

            “..kemarin, aku menonton pertandingan senpai, kau keren sekali” begitulah kata-kata yang keluar dari mulut Anzu akhirnya.

            “oh, ternyata kamu suka menonton pertandinganku ya?” sahut Yuki dengan tawa

            “iya kemarin itu pertandingan yang sulit walau Akhirnya kita menang telak ya” Yuki masih melanjutkan tanggapannya. Anzu jadi semakin kikuk bahkan dia tidak tahu kapan pertandingan yang Yuki ikuti, jadi dia hanya bisa membenarkan dengan anggukan.

            “tetapi Aku jarang melihatmu di spit penonton” ucap Yuki serius

Dalam hati Anzu mengutuk dirinya kenapa memikirkan hal bodoh seperti itu.

            “begini saja Rikuto, kalau kamu sering melihatku bertanding aku akan menyisakan satu tempat duduk untukmu di barisan paling depan,bagaimana?”

Anzu tercengang mendengar penuturan Yuki

            “ dengan begitu setidaknya aku jadi tahu kamu sering menonton pertandinganku, pertandingan selanjutnya melawan skuat sekolah Hirayama. Jangan lupa ya Rikuto”  Anzu masih terdiam di tempat karena kaget, ia bahkan tidak sempat membalas lambaian tangan Yuki yang sudah berangkat ke dalam kelas.

Mengapa semuanya jadi seperti ini?


***

Share:

0 komentar