Secangkir coklat


Secangkir coklat
Aku percaya bahwa secangkir coklat hangat dapat membuat perasaan lebih baik dan   menghilangkan sedikit beban hidup, kau sendiri bagaimana?
          Siang itu, Waffin seperti biasa sedang menyeduh coklat hangatnya di meja yang berada tepat di sebelah taman luar cafe yang hanya di batasi oleh kace bening setinggi tembok itu. Ia selalu suka menikmati saat-saat tenang dan damai seperti ini. Sudah beberapa bulan ini ia selalu datang ke Café  coklat  di akhir pekan demi secangkir coklatnya yang begitu khas dan beberapa potong cake manis lainnya. Waffin selalu mendapat ide untuk menulis saat berada di sini, tetapi hari ini sepertinya ia harus rela berbagi dengan seorang pengunjung yang kini telah berada di hadapannya.
          “sedang menunggu seseorang?” Tanya lelaki dengan suara bariton itu.
          “ng.. tidak juga. Kalau kau ingin duduk silahkan saja” ucap Waffin akhirnya, mau bagaimana lagi, keadaan café  hari ini sangat ramai. Semua kursi telah penuh, padahal meja-meja bundar di café  coklat ini sengaja di desain untuk 2 orang dan 4 orang saja. Dan memiliki teman duduk bukanlah harapannya saat ini.
          Lelaki itu langsung duduk dan membuka leptopnya, sepertinya ia sibuk mengerjakan sesuatu jadi jangankan berbicara pada Waffin menatapnya pun tidak samasekali. Yah, setidaknya Waffin tidak perlu memikirkan basa basi apa yang harus di ucapkannya karena sepertinya hal itu tak diperlukan lagi.
          Beberapa saat kemudian, pesanan lelaki itu mendarat di meja mereka berdua. Waffin menoleh penasaaran pada isi cangkir putih di  hadapannya.
          “kopi hitam pekat?!”gumamnya, bagi Waffin minuman  itu tidak enak samasekali  sebab ia sejak dulu penyuka sweeteis dan itu sudah pasti berbanding terbalik dengan orang sedang duduk di depannya itu.
          “ carabian coffee, mau coba?” Tanya lelaki itu datar, sadar telah ketahuan Waffin segera menggelang dan kembali tenggelam dalam tulisannya. Namun  tak di sangkanya lelaki itu malah tersenyum tipis ke arahnya padahal sejak tadi wajahnya dingin sekali.
          “sudah kuduga kamu menolak, pasti kamu penyuka minuman manis seperti coklat dengan sedikit gula di genggamanmu itu”
Waffin lumayan terkejut lelaki itu tahu persis apa yang sedang di minumnya, padahal kemungkinan hanya dirinya yang selalu meminta sedikit gula untuk secangkir coklat. Secangkir coklat selalu dalam keadaan sangat pahit atau sangat manis dengan full creamy. Dalam hati, Waffin merutuki orang ini. Jadi dia menawari Waffin carabian coffee miliknya karena tahu dirinya pasti menolak, jahat sekali.
“memangnya kenapa kalau aku penyuka manis?, aku bukan anak manja dan feminin seperti pikiranmu” jawab Waffin sebal. Kebanyakan orang selalu mendoktrin penyuka coklat seperti dirinya adalah anak manja, padahal tidak samasekali. tetapi lelaki itu malah mengangkat s ebelah alisnya.
“ aku tidak bilang kalau kamu manja, tetapi setidaknya aku sekarang tahu bahwa kamu begitu sensitive” ejeknya, Waffin diam saja perkataan orang itu ada benarnya. Mereka kembali tenggelam dalam kesibukan masing-masing dalam jangka waktu yang lumayan lama.
“secangkir coklat hangat itu selalu berhasil membuat perasaan lebih baik kan?”
Waffin menoleh penasaran, apa yang baru saja di ucapkan orang itu barusan. Bukankah dia penyuka kopi hitam pahit itu, lalu mengapa ia bisa berkata seperti itu.
“dulu, aku juga penyuka coklat hangat. Tetapi sekarang aku lebih menyukai ini sepertinya” ucapnya ramah
“ kenapa ? kenapa berhenti meminum coklat?” Tanya Waffin penasaran.
Lelaki itu tidak langsung menjawab, ia malah mereganggkan otot lengannya dan mematikan leptopnya serta memasukannya kedalam tas hitam dengan cekatan.
“ yaah, bagaimana ya kalau di tanya seperti itu.” Jawabnya seraya mengacak rambutnya pelan.
“ng,, mungkin karena aku belum siap saja meminumnya” lanjutnya
“kenapa belum siap? Bahkan dengan meminum secangkir, perasaan dapat menjadi lebih baik kan? Kamu pasti tahu karena pernah meminumnya” tegas Waffin
“kamu benar, aku tahu akan hal itu. Dan hal itu yang membuatku berhenti meminumnya. Ng.. aku belum siap untuk memperbaiki perasaanku lagi, aku.. belum siap untuk memulai segalanya lagi, juga untuk bahagia, aku belum siap akan hal itu”
Waffin tercengang mendengar penuturan lelaki itu, ia belum siap bahagia? Maksudnya apa? Apa maksudnya ia belum siap memperbaiki perasaannya lagi? Aneh.
“akh, kamu membuatku tersenyum hari ini. Terimakasih ya” ucap lelaki itu tulus, tak di sangka Waffin akan melihat senyum semanis itu dari wajah dingin seperti dan datar begitu.
“.. rasanya sudah lama sekali aku tidak melakukannya..” lelaki itu berdiri dari kursinya Waffin masih terpaku diam di kursinya.
“..ohya gadis coklat” panggil lelaki itu sebelum beranjak, Waffin  menoleh spontan.
“Jangan sampai kamu merasakan yang namanya patah hati ya, sebab jika itu terjadi coklat hangat itu akan kehilangan efek menenangkannya..’
Waffin menatapnya heran,, patah hati?
“ ..percaya padaku, kopi hitam itu memang sungguh pahit,dan aku berjanji akan mencoba untuk meminum coklat hangat lagi seperti milikmu itu melihatmu meminumnya tadi membuatku ingin mencobanya lagi, terimakasih ya” ucapnya  dan mulai berjalan meninggalkan Waffin sendiri dimejanya seperti sedia kala.
“t- tunggu!” teriak Waffin, dan lelaki pemilik suara bariton itu berhenti, menoleh ke arahnya, menunggu.
“ng..”otak Waffin berpikir cepat, sebenarnya ia juga tidak tahu kenapa ia harus memanggilnya lagi. Konyol.
“..good bye and.. thanks too” ucapnya akhirnya.
Lelaki itu tersenyum, kalau gerakan bibirnya yang sangat minim itu dapat di sebut sebagai sebuah senyuman.
“ jangan ucapkan selamat tinggal begitu dong, nanti kita tidak bertemu lagi” balas lelaki itu
“eh begitu ya.. kalau seperti itu, See you!!!” kali ini, Waffin dapat mengucapkannya dengan lega di tambah lagi ia melambaikan tangannya rendah.
“haha.. See you too” balas lelaki itu dan menghilang di balik kerumunan pengunjung café.


..kau tahu?
Gadis itu, Waffinia pradiska, tidak menyesal memiliki teman duduk hari itu..
Terkadang, kita memang  harus menerima sesuatu yang lain di hati kita, mengenankannya untuk hidup di dalamnya, berdamai dengannya, menerimanya dengan suka cita..
                            
                                                                                                       A story by : Mc Day

Share:

0 komentar