..MORE THAN..
-Mc Day-
Aku tinggal di
sebuah kota dermaga pinggir lautan, Loisiana, saat malam datang kota ini akan
tampak seperti sebuah kota terapung di atas lautan luas. Di ujung kota, tepat
di atas sebuah bukit yang menjorok di atas lautan, telah berdiri sebuah
bangunan bak istana putih kapur. Sedari kecil, aku selalu mengagumi pavilium
putih itu. Ia begitu megah, menawan, dan berdiri kokoh di puncak bukit tanah
bata di atas laut Cantadile. Saat matahari pagi mulai menyapa dunia, cahayanya
menorobos di antara keempat menaranya yang putih tinggi, menyergap di balik
keseluruhan bangunannya dan terbit tepat di antara sepasang menaranya yang
paling besar, membuatnya tampak bagai tempat tinggal para peri negri dongeng.
Di dalamnya ada sebuah cerita cinta yang melegenda, di peringati penduduk negri
ini saat dentang putih bergema hingga di penghujung kota ini.
Tepatnya pagi
ini, aku sudah sejak tadi berdiri tidak sabaran menunggu di besi pembatas
setinggi pinggang di barat laut yang berseberangan dengan pavilium putih. Tepat
di pinggir laut Cantadile aku dapat melihat matahari muncul di antara dua
menaranya yang paling besar. Sebentar lagi..
Tanggal 7, bulan 7, hari ke7, tepat di tahun ke7, pukul
7, menit ke7 , di detik ke 7,akan terdengar 7 dentang yang akan menggema
membungkam seisi kota Loisiana. Seakan serempak menghening atas kisah cinta dua
insan yang pernah tinggal di pavilium putih itu, memberikan penghormatan
terhadap pengorbanan mereka, kisah cinta yang selalu menjadi pengantar mimpi
anak-anak kecil. Mereka menyukai kisah itu, berangan kelak menjadi seorang
putri dan pangeran yang sama bahagianya dengan mereka berdua.
Aku pun begitu,
sejak kecil aku selalu mengagumi kisah cinta di pavilium tua itu..
Aku pun begitu,
selalu mendambakan suara dentang putih yang memperingati kisah itu..
Aku pun begitu,
sama dengan seluruh penduduk kota ini yang tidak mengetahui akhir dari kisah
itu..
Deng.. deng..
deng.. deng.. deng.. deng.. deng..
Detik itu juga
seluruh nafas terhenti, tunduk pada sang lonceng perak di kedua menara pavilium
putih yang berdiri berhadapan. Para nelayan berhenti di atas perahu mereka,
para pedagang berhenti menjajakan dagangan mereka. Semua diam dalam khidmat.
Rosemary membuka matanya begitu gaung
sang dentang putih serasa bagai sebuah bisikan yang menembus dirinya, belum
gemanya menyentuh habis ujung kota , kekhidmatan serta penghormatan terhadap
kisah cinta di pavilium putih itu berakhir dalam hitungan detik saja. Begitu
singkat dan cepat, namun itu sudah lebih
dari cukup bagi Rosemary.
“hmmph”
Rosemary menarik nafasnya dalam untuk di
hembuskan cepat dan matanya yang coklat keemasan bagai tertuang madu itu mulai
menatap lautan cantadile yang kehijauan dan menenangkan siapapun yang
menatapnya. Dan saat itu, Rosemary melihat sekelebat bayangan sebuah wajah yang
sedang tersenyum di atas wajah air. Spontan Rosemary mencarinya, seharusnya
dari jatuhnya bayangan tersebut sang pemilik wajah tertawa itu berdiri tidak
jauh dari Rosemary.
Dan Rosemary menemukannya, lelaki yang
berdiri asal dengan bajunya yang terbuat dari kain tebal dan kasar khas pekerja
kota ini. Tetapi kening Rosemary mengerut, apa ia tidak salah lihat, bayangan
wajah yang dilihatnya tadi itu sedang tersenyum manis sekali sedangkan lelaki
itu dengan ekspresi wajahnya yang sulit di artikan seperti itu tampaknya.. sama
sekali tidak mirip.
Dan tanpa
sadar, lelaki itu telah berjalan pelan mengarah lurus pada tanah dimana
Rosemary berdiri. Badannya yang tegap tinggi, kulitnya yang kecoklatan, rambut
pasirnya yang mulai kepanjangan, langkahnya yang gontai tetapi menciptakan
derap, Rosemary merasa gugup ketika ia menghentikan langkah di hadapannya.
“menunggu
dentang putih?” tanyanya datar
Rosemary tak
langsung menjawab, ia sedang meyakinkan diri bahwa memang dirinyalah yang
ditanya.
“iya” balas
Rosemary akhirnya
“heh,Masih saja
percaya pada dongeng anak kecil” ucapnya dengan senyum smirk yang mengejek
Tersikap,
lelaki itu berlalu begitu saja dan melewati Rosemary yang masih tertegun.
Kemudian berbisik pelan di telinga kanannya.
“dugaanku
tepat, kamu memang gadis bodoh rupanya” kemudian ia berlalu
Rosemary
langsung berbalik dan mengejar lelaki menyebalkan itu, menjajari langkahnya
yang lumayan cepat.
“ aku bukan
gadis bodoh!” tentang Rosemary garang
“kalau bukan
orang bodoh dan anak kecil yang percaya dongeng pengantar tidur seperti itu,
lalu apa?” balasnya malas sembari meletakan kedua lengannya di kepala,
bertingkah acuh tak acuh.
Rosemary tidak
berhenti, orang Ini seenaknya saja menyebutnya bodoh dengan kisah cinta yang
begitu dikaguminya, ia tak akan terima begitu saja!
“lalu kau
sendiri apa? Bukankah kau sendiri datang ke tempat ini untuk mendengarkan
dentang putih sembil menatap langsung ke pavilium putih?”
Lelaki itu
menghentikan langkahnya, lalu menatap sinis pada Rosemary yang juga menatapnya
tak mau kalah, seakan ia berkata ‘apa buktimu’, namun Rosemary telah
mempersiapkan serangan berikutnya.
“..aku tahu,
sebab kamu datang lebih dulu dariku, kamu telah menanti dentang putih itu
setelah menyaksikan sunrise dari belakang pavilium putih kan?” tambah Rosemary
yakin, dan itu cukup membuat lawan bicaranya kehilangan kata-kata.
“a-aku.. hanya
beristirahat, jadi apa salahnya aku menyandarkan tubuhku pada besi pembatas itu
hah?” sengitnya tak kalah, dan Rosemary sudah tahu ini akan terjadi.
“hanya orang
bodoh yang beristirahat bahkan saat ia belum mulai berkerja, lagipula..”
Rosemary melihat ke arah tas belancu menggantung di pinggangnya yang ternoda hitam di sana sini, orang ini
sudah pasti seorang sol sepatu di kota, simpulnya.
“..mana mungkin
ada yang meminta mengkilapkan sepatunya sebelum matahari terbit”
Lelaki itu
benar-benar terdiam sekarang, ia sendiri mengakui kebenaran kalimat gadis di
hadapannya itu sejak tadi, tidak meleset satupun, ia memang sengaja berdiri di
sana untuk mendengar dentang putih secara langsung, dan ia memang belum mulai
berkerja, tetapi ia akan tampak bodoh sekali mengakuinya pada gadis bermata coklat
mahoni dan madu yang masih menyejajari langkahnya sedari tadi.
“tetapi bukan
berarti aku percaya pada dongeng konyol itu kan?” ucapnya dan langsung
mengambil langkah lebar meninggalkan Rosemary
Rosemary kesal
bukan main, lelaki itu benar-benar keras kepala, padahal ia sudah terpojok
seperti itu, ia juga memutuskan untuk berhenti mengejarnya tetapi saat Rosemary
sedang menatap punggungnya yang tengah berlari kecil pemiliknya menoleh
kebelakang dan tersenyum manis sekali, membuat Rosemary membulatkan matanya tak
percaya. Lihatlah, bahkan sekarang ia melambai pelan padanya! Mana sikap
acuhnya barusan itu?!
“aku harus bergegas,
sampai jumpa ya gadis bodoh!” teriaknya setengah berlari. Rosemary masih
menatapnya tak percaya, sepertinya kini ia harus mengakui bahwa ia memang
menyukai bayangan wajah yang tertawa di atas air tadi. Tentu hanya bayangannya
saja..
“keterlaluan”
komentar Rosemary pelan. Ia segera melangkahkan kaki menuju ke pusat kota,
rumahnya berada tak jauh dari toko kue yang ia dan ibunya jalankan sejak
bertahun lalu, jam matahari besar di taman kota juga sudah berkemiringan di
atas 180` derajat pertanda waktu sudah menunjuk pukul 8 pagi. Rosemary berharap
para penambang emas belum melakukan kunjungan rutin pagi di tokonya, ia sendiri
kurang suka pada tabiat mereka yang suka berteriak-teriak kelewat wajar seperti
biasanya.
Setibanya di
rumahnya yang bertingkat dua nuansa klasik kuno seperti kebanyakan rumah di
Louisiana, Rosemary segera menambahkan sebuah apprount di atas baju terusan
pastel bunganya dan melangkah riang ke arah toko kuenya. Sesampainya di sana
beberapa sapaan riang terdengar, dengan sepenuh hati di balasnya dengan
senyuman lebar khas Rosemary.
“ pagi Mr .
Loufoo” sapa Rosemary, yang di sapa malah mengisyaratkan Rosemary untuk
membantunya menuang seloyang coklat cair ke sebuah wadah besar lainnya,
Rosemary tertawa melihatnya yang kerepotan dan dengan sigap membantunya.
Ibunya memang
menempanya dengan berkerja keras, baginya walaupun sudah hidup berkecukupan,
Rosemary tetap harus menguasai berbagai ilmu. Dan di dapur ini Rosemary
berlatih, ia dapat membedakan tanaman beracun hanya dari baunya, ia memang tak
pandai memasak namun ahli dalam menilai dan meracik resep, ia lihai dalam
menggunakan berbagai pisau dapur beragam ukuran.
Kling..
Lonceng toko
berbunyi pelan, seorang loper Koran baru saja melemparkan sebuah yang menabrak
pintu masuknya. Rosemary memungutnya cepat, ia akan membacanya nanti sepulang
berkerja. Di lihatnya sosok dengan tubuh tegap dan rambut pasirnya yang agak
kepanjangan berlalu dengan gesit, Rosemary tertawa geli.
“jadi itu
penyebabnya begitu terburu-buru”
***
Tags:
chaptered
1 komentar
..TBC, will be soon : )
BalasHapus