cantabile2
***
Prolog
Masa festifal musim semi tahun ini akan di rayakan si sepanjang taman kota yang sedang merekah, bau wewangian bunga yang sedang mekar warna-warni, tawa para pengunjung yang riuh ramai, serta berbagai kedai yang menjajakan beragam makanan manis yang menggiurkan terasa menyatu bagaikan suatu nada yang terdengar renyah. Inilah alunan nada itu, musik musim semi yang Indah.
Seorang anak lelaki tampak berdiri bimbang sendirian sambil memegang balon besar berwarna biru sedang matanya tampak berkaca-kaca,ia menoleh ke kanan dan kiri beberapa kali menelusuri jalan di sekitar taman yang penuh sesak, ia tampak khawatir walaupun begitu sesekali tangannya mengadah meraih beberapa anak bunga kaspea tua yang beterbangan ke arahnya. Setelah lelah, ia memutuskan untuk berjalan menyusuri bagian timur jalan,arah yang paling dekat dengannya. Ia sudah tidak tahan lagi, ia mulai mengusap air bening yang membasahi pipinya kini.
“Hihi”
Suara tawa terdengar meledek di telinga anak itu, spontan ia mencari siapa yang sudah berani menertawakannya saat itu.
“masa anak laki-laki menangis hihi?”
Dan ia menemukannya, sosok itu sedang sekuat tenaga menahan tawa hingga pipinya yang tampak empuk itu memerah. Gadis kecil itu duduk di balik sebuah meja pendek kecil selagi berkali-kali membenarkan letak topi besar ala penyihir yang menutupi matanya yang bulat sempurna
“berani sekali kamu menertawakanku!” anak lelaki itu mendekat tidak terima
Namun gadis kecil itu malah dengan riang mengangkat cermin berukuran sedang sehingga tampaklah wajah si anak lelaki yang tampak memerah kontras dengan rambutnya berwarna pasir.
“eh” ucapnya salah tingkah, yang tampak di cermin kini memang dirinya yang terlihat begitu lucu dan kacau.
“apakah kamu ingin di ramal?” Tanya gadis kecil itu tertawa riang.
“kamu..peramal?” Tanya anak itu ragu, namun yang di tanyanya mengangguk penuh semangat sambil menyodorkan kartu bergambar bintang yang tampak tersenyum.
“apa kamu bisa meramal di mana ayahku sekarang?” Tanya anak itu pelan
Gadis di hadapannya langsung berhenti tersenyum, cahaya matanya yang hitam sempurna meredup berganti menjadi iba.
“aku nggak bisa tahu di mana ayahmu? Kamu tersesat ya?”
Ia tertunduk sebentar,sedikit merasa bersalah karena tadi menertawakannya kemudian menatap wajah anak lelaki di depannya lekat-lekat dan tersenyum menunjukan bahwa ia begitu mengerti.
“ ya sudah kamu tunggu saja di sini kalau aku membantumu berkeliling maka kita..”
“..akan tersesat berdua!”sambung anak lelaki itu tepat, kemudian mereka berdua tertawa,ia merasa tenang begitu saja dan memutuskan untuk duduk bersama si gadis kecil
“aku punya ide untuk menemukan orang tuamu!”serunya tiba-tiba.
Tanpa menunggu respon dari lawan bicaranya, ia segera mengambil balon yang di pegang tangan kiri anak lelaki itu dan mencoretnya dengan huruf besar yang di tebalkannnya dengan spidol hitam bertuliskan ‘ayah aku di sini’
“nah selesai, ayo tambahkan namamu”perintahnya, sejenak ia tertegun namun segera melakukan apa yang di suruhnya. Ia menulis dengan huruf hiragana yang sama besarnya kemudian mereka mengikatkannya pada seutas benang kasur putih dan menerbangkannya cukup tinggi sehingga nampak menonjol di udara. Kemudian mereka tersenyum lega.
“terimakasih”ucap anak lelaki itu sedang gadis kecil di hadapannya mengangguk cepat turut bergembira.
“aku mau coba di ramal, Apa mereka berkerja dengan baik?”
Gadis kecil itu nampak canggung, namun senang sebab anak lelaki itu sudah terlihat lebih baik sekarang.
“tentu saja, tetapi aku biasanya meramal untuk beberapa kakak SMA yang lewat di sini, tetapi aku akan coba untukmu”ucapnya riang kemudian meletakan beberapa kartu di meja kecil di hadapannya secara tak urut.
“ nah, ayo pilih dua kartu lalu aku akan mengartikannya untukmu” mengikuti intopeksi,anak lelaki itu tampak memilih sebentar lalu mengambil kartu yang paling barat dan sebuah kartu di tengah.
“hmm.. baiklah tuan aku akan menyebutkan arti kartu ini untukmu” ucap si gadis kecil bak orang dewasa, namun dengan aksennya yang belum terlalu jelas malah terdengar begitu lucu untuk anak seusianya.
“menurut kartu ini anda adalah..”kening gadis kecil itu mengerit,tampak bingung.
“apa? Aku apa?” potong anak lelaki itu tak sabar
“..pelindung”ucapnya pelan
“hah?”
“iya, kau adalah pelindung untuk ..”
Sebelum si gadis kecil menyelesaikan kalimatnya terdengar seseorang berseru senang lalu memeluk si anak lelaki, lelaki dewasa dengan pakaian biru terang yang bertubuh tegap.
“ astaga! Aku mencarimu kemana-mana nak” seraya mengusap pelan kepala anaknya di pelukannya, ia tampak begitu lega mengucapkannya.
“ayah..” balas si anak
Si gadis kecil hanya bisa tertegun menyaksikannya, akhirnya mereka bertemu gumamnya. Setelah mengucapkan terimakasih ayah dan anak lelaki berusia 5 tahunan itu pergi. Si gadis kecil hanya dapat membalas dengan senyuman.
“selamat tinggal” teriak anak lelaki yang semakin jauh di antara kerumunan.
“jangan ucapkan selamat tinggal nanti kita tidak bertemu lagi”balas gadis kecil parau
“baiklah.. sampai jumpa lagi gadis kecil peramal!”teriaknya sekali lagi, kali ini suara itu lenyap bersamaan dengan tubuhnya yang tidak terlihat lagi.
Angin kembali berhembus pelan, dedauan kering dan serbuk-serbuk sari bergelayut di antaranya. Sebuah tanpopo mendarat tepat di atas kartu yang baru saja di letakan si gadis kecil di atas meja kecil. Kartu yang belum selesai dia baca artinya.Sebuah kartu bergambar seorang prajurit perkasa yang sedang melindungi seorang gadis yang memeluk cahaya..
andai si gadis kecil itu mengerti akan arti kebenarannya
andai anak lelaki itu mengerti arti sebuah kartu yang masih di bawanya di kantong baju
andai saja mereka berdua saling menoleh lagi
namun itu tidak terjadi
bahkan waktu membuat mereka lupa
waktu memilih mereka tidak akan saling mengingat lagi
semua mengalir begitu saja
mengalir seperti nyanyian
***
Tags:
chaptered
0 komentar